| |||||||
Selasa, 27 September 2011
Jalan Ahmad Yani Mulai Ditata
Selasa, 09 Agustus 2011
Sidak di Abe, Sejumlah Masalah kebersihan Ditemukan
Selasa, 09 Agustus 2011 , 00:17:00
Wali Kota Jayapura, Drs.Benhur Tommy Mano, MM saat mengecek salah satu saluran air di depan Rumah Makan Lestari Kotaraja yang dipenuhi sampah plastik, Senin (8/8).
JAYAPURA-Sejumlah masalah kebersihan ditemukan Wali Kota Jayapura, Drs. Benhur Tommy Mano, MM saat melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di wilayah Distrik Abepura, Senin (8/8). Salah satu masalah yang ditemukan yang membuat Wali Kota Benhur Tommy Mano, geleng-geleng kepala yaitu adanya saluran air yang tersumbat sampah plastik.Drainase yang dipenuhi sampah plastik tersebut ditemukan tepat di depan Rumah Makan Lestari Kotaraja. Melihat kondisi saluran air yang dipenuhi sampah, Wali Kota langsung memanggil sejumlah pimpinan SKPD yang mendampinginya melakukan Sidak. Bahkan Wali Kota langsung meminta Kepala Dinas Kebersihan, Pemakaman dan Pertamanan (DKPP) Kota Jayapura, PH Mayor untuk memerintahkan jajarannya untuk megangkut sampah plastik tersebut.
Selain mengecek langsung saluran air, Wali Kota juga terlihat mendatangi sejumlah pemilik toko yang berada di ruas Jalan Raya Abepura. Bahkan Wali Kota terlihat sempat menegur beberapa pemilik yang kurang memperhatikan masalah kebersihan di sekitar lingkungan tokonya. Termasuk pemilik toko yang menutup drainase depan tokonya dengan coran semen. Wali Kota juga terlihat meminta para pemilik toko untuk menyipakan tong sampah di tempat usahanya.
Disamping meminta para pemilik toko untuk memperhatikan masalah kebersihan, Wali Kota juga meminta agar mereka memperhatikan masalah keindahan lingkungan. Misalnya menaman bunga atau tanaman lain depan tokonya serta menaikkan bendera merah putih dan memasang umbul-umbul untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-66.
Ditemui Cenderawasih Pos usai melakukan Sidak, Wali Kota Benhur Tommy Mano mengakui ada beberapa titik yang perlu mendapat perhatian erius twerkait masalah kebersihan dan keindahan lingkungan. Sebab daria pantauannya, masih ditemukan adanya sampah yang menumpuk, timbunan bekas pekerjaan galian, rumput yang tinggi serta drainase yang tersumbat sampah. “Masalah kebersihan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Tetapi semua komponen masyarakat termasuk swasta ikut bertanggungjawab,” ujarnya.
Untuk itu, Wali Kota mengatakan, Pemkot Jayapura tetap akan memberikan sanksi kepada pihak swasta yang tidak mengindahkan aturan yang berlaku khususnya menyangkut masalah kebersihan dan keindahan lingkungan. “Bagi yang tidak mengindahkan tentunya ada akibat hukum yang akan ditanggung. Namun hal itu tentunya dilakukan secara berjenjang yaitu dengan memberikan teguran pertama, kedua dan ketiga. Apabila teguran yang diberikan tidak diindahkan, maka dengan terpaksa izinnya dicabut,” tegasnya.
Selain pihak swasta, Wali Kota juga mengharapkan para kepala distrik, kepala kampung dan kelurahan hingga ke RT/RW untuk membantu menyukseskan program Pemkot Jayapura ini. (nls/nat)
Sabtu, 06 Agustus 2011
Gerakan Indonesia Hijau Foundation: Pengelolaan Sampah "REGIONAL MANAGEMENT" Terpadu
Gerakan Indonesia Hijau Foundation: Pengelolaan Sampah "REGIONAL MANAGEMENT" Terpadu: "Aplikasi Go Green N Organik_dok.Rul Indonesia Green Solution by Regional Management Zero Waste Ind..."
Senin, 25 Juli 2011
DPA 2011, BLH Fokuskan Pada Pemeliharaan
| | | |
| Kamis, 20 Januari 2011 14:53 |
| Jalan masuk menuju Laboratorium Lingkungan Hidup Kota Jayapura yang terletak di Skyland. Diungkapkannya, DPA TA 2011 milik BLH Kota Jayapura berkisar Rp. 4,9 Milyar dimana sekitar Rp. 3,9 Milyar diperuntukkan bagi belanja rutin BLH seperti belanja pegawai dan lain sebagainya. "Sehingga dana sekitar Rp. 1 Milyar tersebut akan dipergunakan untuk pemeliharaan pohon-pohon yang telah ditanam sebelumnya dari kegiatan penanaman pohon yang dilaksanakan," urainya. Thamrin menuturkan bahwa meskipun DPA BLH Kota Jayapura TA 2011 ini naik sebesar 5 persen, tetapi program dan kegiatan yang akan dilakukan tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. "Justru di tahun ini terdapat program-program baru dari pemerintah pusat seperti alokasi dana bagi pengaduan pencemaran lingkungan serta perubahan iklim," imbuhnya. Dijelaskannya, seperti untuk perubahan iklim, kegiatan ini berlaku secara nasional di seluruh Indonesia, bahkan Kota Jayapura hanya menerima sedikit untuk anggaran perubahan iklim ini. "Salah satunya diperuntukkan Badan Penanggulangan Bencana Alam di Kota Jayapura," tukasnya. |
Yotefa: dulu, sekarang dan akan datang
Teluk Yotefa
Letaknya yang melingkari sisi timur kota Jayapura dan diapit hutan bakau/mangrove menjadikan Teluk Yotefa sebagai tempat berkembang-biota air seperti udang, kepiting dan udang serta memberikan panorama yang memukau di kawasan perairan Jayapura (Gambar 1).
Potensi ekosistem mangrove Yotefa
Pada garis pantai yang masih terlindung, potensi mangrove yang ada masih berada dalam kondisi yang baik kurang lebih sekitar 200m ketebalannya dari garis pantai dan sedikitnya terdapat tujuh jenis mangrove antara lain Nypa fruticans (Nipa), Rhizopora apiculata (Mangi-mangi), R. mucronata (Mangi-mangi), Ceriops tagal (Lolaro), Sonneratia alba (Lolaro), S. caseolaris (Lolaro) dan S. ovata (Lolaro).
Dari komposisi mangrove yang ada, selain merupakan habitat bagi biota air di sekitarnya, juga dimanfaatkan oleh jenis burung tertentu sebagai habitat mereka juga. Beberap jenis burung yang sempat diamati di sekitar kawasan, antara lain Pandion haliaetus (Elang tiram), Alcedo azurea (Raja udang biru langit), A. atthis (Raja udang erasia), Egretta garzetta (Kuntul kecil), E. sacra (Kuntul karang), Gygis alba (Dara laut putih), Paradisaea apoda (Cenderawasih besar), Eclectus roratus (Nuri bayan), Lorius lorry (Kasturi kepala hitam) dan Sula leucogaster (Angsa batu coklat).
Dampak Pembangunan terhadap kelestarian Yotefa
Pada tahun 2004 hasil survey Bapedalda Kota Jayapura terhadap parameter kualitas air laut di Teluk Yotefa pada tiga lokasi yaitu daerah Abe Pantai, kawasan rekreasi Pantai Tobati dan Enggros menunjukkan hasil yang menguatirkan. Di kawasan Abe Pantai misalnya kadar minyak dan lemak mencapai 8,19 mg/lt (standar 5mg/lt). Selain itu juga terdeteksinya keberadaan kandungan logam berat Chrom (Cr) yang telah mencapai 0,01 mg/lt, Timbal (Pb) telah mencapai angka 0,03 mg/lt serta kadar Merkuri (Hg) sebesar 0,02 mg/lt yang seharusnya tidak boleh ada dalam air dengan persyaratan kualitas air sehat.
Keberadaan ketiga jenis logam berat ini diduga akibat akumulasi dalam kurun waktu tertentu sebagai akibat aktivitas berbagai usaha industri yang berkembang akhir-akhir ini di Jayapura khususnya di sekitar perairan Teluk Yotefa (Hamadi, Entrop, Kotaraja, Abepura dan Jayapura), misalnya perbengkelan kendaraan bermotor misalnya merebak dengan pesatnya di sepanjang jalur Jayapura – Abepura – Abe Pantai. Penanganan limbah bengkel, sisa olie, minyak dan cairan berbahaya lainnya yang kurang baik tanpa disadari terbawa saluran air, sungai kecil yang kesemuanya bermuara di Teluk Yotefa. Akibat limpahan sampah industri dan rumah tangga lainnya telah membuat permukaan Teluk Yotefa di bagian-bagian tertentu kelihatan seperti berminyak. Kondisi ini semakin diperburuk dengan pembuangan limbah dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura, RS Bhayangkara di Kotaraja dan RS TNI AL di Distrik Jayapura Selatan yang kesemuanya bermuara di Teluk Yotefa.
Usaha mempertahankan kondisi kawasan
Keindahan alam Teluk Yotefa bukan hanya kiasan belaka, karena Kelompok Musik Mambesak dari Universitas Cenderawasih pada masa tenarnya di tahun 80-an pernah mempopulerkan keindahan pesona alam Teluk Yotefa melalui salah satu syair lagunya. Sejalan dengan pengembangan kota Jayapura yang semakin pesat, sepertinya pesona teluk Yotefa semakin memudar, karena nampaknya orang di sekelilingnya kurang peka mendengar keluhan Yotefa yang semakin hari semakin berat memikul beban moral kepopulerannya sebagai kawasan yang memiliki pesona alam pantai yang indah.
Langkah yang ditempuh Pemkab Kota Jayapura melalui penanaman 2000 bibit pohon bakau di sekitar Yotefa pada peringatan hari Lingkungan Sedunia, 5 Juni 2007 yang lalu cukup beralasan, karena ingin mengantisipasi kemungkinan bencana alam banjir dan abrasi laut dan arus gelombang pasang seperti yang dialami oleh Negara tetangga PNG pada tahun 2005 lalu yang pada akhirnya akan dirasakan oleh rakyat kecil yang mendiami Kampung Tobati, Enggros dan kawasan pertumbuhan Entrop.
Kondisi topografi kota Jayapura memang agak unik karena daerah yang tinggi (pegunungan) ditemukan pada bagian belakang sedangkan hamparan lahan datar dan laut di bagian depannya, sehingga tidak ada pilihan lain Pemkot Jayapura harus lebih proaktif untuk memikirkan penanganan limbah cair supaya tidak mencemari laut. Dalam era sekarang ini, jika penataan tata ruang kota yang dikembangkan tidak sesuai dengan peruntukan lahan dan tanpa melalui AMDAL, “karena kontribusinya cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap lingkungan alam di sekitarnya seperti perubahan fisik bentang alam dan penangangan limbah yang dapat mengancam kehidupan mahluk hidup lainnya. Kerjasama antar instansi perlu dipertegas melalui pendekatan pengelolaan kolaborasi berbasis pemberdayaan masyarakat yang merupakan pemegang hak ulayat, karena jika masyarakat merasa memiliki kawasan, maka mereka akan berusaha untuk menjaga kelestarian kawasan dimana mereka tinggal. Usaha penyadaran terhadap masyarakat melalui tindakan advokasi perlu juga ditingkatkan. Semua usaha yang dilakukan perlu pula diikuti dengan upaya penegakan hukum yang serius misalnya pembuatan PERDA guna mengantisipasi tragedi lingkungan di Teluk Yotefa. Memulai sesuatu yang belum pernah dicoba memang terasa berat, tapi kalau tidak diupayakan, kapan angan-angan kan terwujud?
Langganan:
Postingan (Atom)